Kedutaan Besar Republik Islam Iran menggelar peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Selasa (10/2/2026). Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari diplomat, akademisi, hingga perwakilan institusi di Indonesia.
Dari Universitas Brawijaya, turut hadir sejumlah sivitas akademika, di antaranya Dekan FISIP UB Dr. Ahmad Imron Rozuli, Direktur Brawijaya Islamic Civilization and Middle East Studies Yusli Effendi, serta dosen Hubungan Internasional FISIP UB yang juga menjabat sebagai Direktur Iran Corner, Sayyid Abdullah Assegaf.



Dalam kesempatan tersebut, Abdullah menyoroti perjalanan Iran pasca Revolusi Islam yang dinilai mampu menunjukkan ketahanan nasional di tengah tekanan global. Ia menilai bahwa Iran berhasil mencatat kemajuan signifikan, khususnya dalam bidang teknologi strategis dan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kemampuan suatu negara untuk tetap berkembang meskipun menghadapi berbagai sanksi dan embargo internasional. Ia juga menekankan bahwa faktor ideologi dan sistem politik domestik turut berperan dalam menjaga konsistensi arah kebijakan Iran.
Lebih lanjut, Abdullah menyinggung posisi Iran dalam isu global, termasuk dukungannya terhadap Palestina. Ia menilai sikap tersebut merupakan bagian dari prinsip kebijakan luar negeri yang berorientasi pada penolakan terhadap kolonialisme dan dominasi kekuatan besar. Abdullah turut mengomentari keterlibatan Indonesia dalam forum internasional seperti Board of Peace (BoP). Ia menilai partisipasi tersebut mencerminkan peran aktif diplomasi Indonesia, namun tetap perlu disertai sikap kritis terhadap dinamika politik global, khususnya terkait mekanisme veto yang dapat memengaruhi keputusan internasional.
Ia menegaskan pentingnya menjaga konsistensi politik luar negeri Indonesia agar tetap selaras dengan amanat konstitusi, terutama dalam menolak segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan global. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peringatan historis, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan perspektif diplomatik dan akademik terkait dinamika geopolitik kontemporer.
